Categories
News

BI: Tarif Swap Devisa Diturunkan

BI: Tarif Swap Devisa DiturunkanPemerintah dan Bank Indonesia (BI) tengah berkoordinasi meningkatkan jumlah devisa dengan menarik Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke dalam negeri dan mengonversinya ke rupiah. Untuk itu, eksporter akan diberikan biaya swap yang lebih murah. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, saat ini BI menerapkan biaya swap sekitar 5% untuk tenor satu bulan dan 6% untuk tenor enam bulan. “Kami akan terus berupaya supaya swap maupun forward terus murah,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, di Jakarta, pada akhir pekan. Menurutnya, saat ini sekitar 80-81% DHE telah masuk ke perbankan Indonesia. Namun, DHE yang dikonversikan dalam mata uang rupiah baru sekitar 15-16% sehingga pihaknya masih terus mendorong eksporter untuk mengonversi DHE ke rupiah. Namun, apabila eksporter tersebut masih ingin memegang valasnya, bisa melakukan transaksi melalui swap tersebut. “Kami juga dorong eksporter melakukan konversi ke rupiah atau lakukan swap bagi importer atau yang ingin membayar utang tidak harus semuanya melalui spot, tetapi bisa melalui forward dengan biaya yang relatif lebih murah,” kata dia. Dari sisi pemerintah juga telah menyediakan insentif pajak bagi pengusaha yang menaruh DHE dalam bentuk rupiah di dalam negeri.

Hal itu sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 26/PMK.010/2016, yakni insentif pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) atas bunga deposito dan tabungan, serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang diparkir di perbankan dalam negeri, bahwa pemerintah akan memberikan diskon tarif PPh Final pada bunga deposito dan tabugan serta diskonto SBI DHE yang ditaruh dalam negeri. Lebih lanjut, Perry mengatakan, akan mengeksplore opsi lain yang dimungkinkan dan memastikan terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan, bahwa BI tengah mengkaji aturan menarik DHE seluruhnya ke dalam negeri. Aturan ini rencananya diterbitkan dalam waktu dekat. “BI sedang memfinalisasi dan akan diumumkan minggu depan atau minggu berikutnya,” ujar Darmin. Lebih Ringan Menurut Darmin, kebijakan yang sedang dibahas adalah pemberian keringanan biaya swap bagi pengusaha untuk menghindari fluktuasi nilai tukar rupiah di masa mendatang. “Bank Indonesia sedang merumuskan kebijakan untuk biaya swap kalau dia mau beli lagi valas di waktu yang akan datang itu biayanya lebih ringan,” jelasnya.

Darmin memastikan, dengan penukaran devisa tidak akan merugikan pengusaha, karena pengusaha dapat menukar kembali rupiah jika membutuhkan sewaktu-waktu ketika melakukan aktivitas ekspor ataupun produksi. “Nggak selalu perlu devisa lagi loh dia, karena dia berusahanya di sini kan. Misalnya kelapa sawit, batu bara, dan kelapa sawit, apa memerlukan devisa? Ya ada, kalau dia membeli traktor, tapi sebagian besar itu untuk upah. Jadi, tidak selalu dan sebagian kecil saja eksporter itu sebetulnya masih memerlukan devisa. Sebenarnya yang paling simpel adalah tukar saja dolarmu dengan rupiah. Gunakan untuk produksi. Tapi, ya karena siapa tahu dolarnya lebih menguat makanya dia tahan. Tapi akibat dari itu benar-benar itu memberikan tekanan ke rupiah menjadi lebih tinggi. Jadi ini ada persoalan niat baik dan tanggung jawab bersama supaya rupiahnya jangan makin melemah,” katanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *