Categories
News

Laporan Utama – Saat Tepat Gunakan Mobil Niaga Part 4

Laporan Utama – Saat Tepat Gunakan Mobil Niaga Part 4

Bagi Agus, begitu ia biasa disapa, persaingan yang terbilang ketat di industri penyewaan kendaraan ini, mengharuskan perusahaan yang dikelolanya mengutamakan kualitas pelayanan, memerhatikan kondisi kendaraan, dan tentu saja mengutamakan keandalan kru. Masalah harga menjadi nomor kesekian. Selain persaingan dengan perusahaan sejenis, tantangan dalam berbisnis ini adalah munculnya kebijakan pembatasan BBM bersubsidi. Terutama jenis solar. Hal ini bagi Agus cukup memengaruhi waktu operasional.

Sumber : Jasa Seo Semarang

Solusinya Waktu pengisian bahan bakar disesuaikan dengan jadwal “buka” BBM bersubsidi di setiap SPBU. “Kita pun atur lokasi pengisiannya,” kata Agus. Agar kondisi kendaraan tetap prima, WHG yang berada di bawah naungan PT Panorama Transportasi, Tbk, menjalin kerja sama dengan toko suku cadang dan bengkel. Sementara untuk pasokan kendaraan, beberapa ATPM ternama telah memastikan White Horse mendapatkan kendaraan terbaik. Seperti Toyota, Mercedes, Hyundai, Mitsubishi, dan Isuzu. Setiap kendaraan diperuntukkan berbeda-beda.

Lantas, siapa saja konsumennya Di antaranya perusahaan (korporat), sekolah, dan travel agent. “Kalau ada event international, seperti KTT APEC beberapa waktu lalu, kita juga dipakai untuk jasa layanan transportasinya,” ungkap Agus. Selain di Jakarta, White Horse pun membuka beberapa kantor perwakilannya di kota lain. Seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar (Bali), dan Palembang. Modal Awal Rp10 Juta Tentu untuk memulai usaha dengan penyewaan kendaraan niaga, diperlukan modal. Namun bisa dimulai dengan dana yang kecil.

Contohnya Jekson Panggabean Purba (29) di Cilangkap, Jakarta, yang memfokuskan diri di bidang usaha penyewaan mobil boks. Ia memulai usaha tersebut sejak akhir 2010 dengan modal Rp10 juta. Uang tersebut digunakan untuk uang muka truk boks beroda empat. Ia memilih truk Isuzu. Pertimbangannya, truk ini hemat dalam penggunaan bahan bakar. Jekson memilih usaha penyewaan mobil boks karena melihat peluang usaha ini sudah ada di depan mata. “Karena peluang sudah ada, dari sisi fi nansial saya tidak ragu lagi,” katanya.

Sebelum memulai usaha ia memang pernah bekerja sebagai pengemudi mobil boks sembari kuliah. Sekarang ia memiliki enam unit mobil boks. Terdiri atas 2 unit mobil boks Daihatsu GranMax, 3 unit truk boks Isuzu empat roda, dan satu unit truk boks Mitsubishi Colt Diesel enam roda. Komposisi armada ini ia tentukan berdasarkan kebutuhan pasar yang ia ketahui berdasarkan pengalaman. “Awalnya berat. Pertama saya harus membangun relasi. Dari relasi ini nantinya bisa jadi customer. Saya harus sabar meminta (order),” ungkap Jekson.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *